Isolasi Sosial

Pengertian Isolasi Sosial

Isolasi Sosial
Ilustrasi Isolasi Sosial

Isolasi sosial ialah keadaan ketika individu atau kelompok mengalami atau mencicipi kebutuhan atau harapan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak bisa membuat kontak (Carpenito, 2007).

Sedangkan menurut Doenges, Townsend dan Moorhouse (2007), isolasi sosial ialah kondisi ketika individu atau kelompok mengalami, atau mencicipi kebutuhan, atau harapan untuk lebih terlibat dalam acara bersama orang lain, tetapi tidak bisa mewujudkannya.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa isolasi sosial ialah keadaan ketika individu atau kelompok mengalami ketidakmampuan untuk mengadakan kekerabatan dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya secara wajar, sehingga menjadikan kecemasan pada diri sendiri dengan cara menarik diri secara fisik maupun psikis.

Respon Isolasi Sosial 

Isolasi sosial merupakan salah satu respon maladaptif individu yang berada dalam rentang respon neurobiologi. Respon maladaptif ialah respon individu dalam menyelesaikan duduk perkara yang menyimpang dari norma-norma sosial budaya dan lingkungan (Stuart, 2007).

Respon adaptif ialah respon yang diterima oleh norma sosial dan kultural dimana individu tersebut menjelaskan duduk perkara dalam batas normal. Adapun respon adaptif tersebut adalah:

  1. Solitude. Respon yang diperlukan untuk menentukan apa yang telah dilakukan di lingkungan sosialnya dan merupakan suatu cara untuk mengawasi diri dan menentukan langkah berikutnya.
  2. Otonomi. Suatu kemampuan individu untuk menentukan dan memberikan ideide pikiran.
  3. Kebersamaan. Suatu keadaan dalam kekerabatan interpersonal dimana individu tersebut bisa untuk memberi dan menerima.
  4. Saling ketergantungan. Saling ketergantungan antara individu dengan orang lain dalam kekerabatan interpersonal.

Respon Maladaptif ialah respon yang dilakukan individu dalam menyelesaikan duduk perkara yang menyimpang dari norma-norma sosial dan kebudayaan suatu tempat. Karakteristik dari perilaku maladaptif tersebut adalah:

  1. Menarik diri. Gangguan yang terjadi apabila seseorang memutuskan untuk tidak bekerjasama dengan orang lain untuk mencari ketenangan sementara waktu.
  2. Manipulasi. Menganggap orang lain sebagai obyek dan berorientasi pada diri sendiri.
  3. Ketergantungan. Individu gagal menyebarkan rasa percaya diri dan kemampuan yang dimiliki.
  4. Impulsif. Ketidakmampuan merencanakan sesuatu, tidak bisa berguru dari pengalaman, mempunyai penilaian yang buruk dan cenderung memaksakan kehendak.
  5. Narkisisme. Harga diri yang rapuh, memiliki sikap egosentris, pencemburu dan marah jikalau orang lain tidak mendukung.

Penyebab Isolasi Sosial

Berbagai faktor yang menyebabkan isolasi sosial antara lain sebagai berikut (Suliswati, Payapo, Maruhawa et.al, 2005):

a. Faktor predisposisi 

Faktor predisposisi ialah aspek biologis, psikologis, genetik, sosial dan biokimia. Penyebab isolasi sosial berdasarkan faktor predisposisi antara lain sebagai berikut:

  1. Faktor perkembangan. Dalam pencapaian peran perkembangan dapat menghipnotis respon sosial maladaptif pada setiap individu.
  2. Faktor biologis. Faktor genetik dapat berperan dalam respon sosial maladaptif, keterlibatan neurotransmitter dalam perkembangan gangguan ini.
  3. Faktor sosiokultural. Norma yang tidak mendukung pendekatan terhadap orang lain, atau tidak menghargai anggota masyarakat yang kurang produktif, menyerupai lanjut usia, orang cacat, dan penderita penyakit kronis dapat menyebabkan terjadinya isolasi sosial.
  4. Faktor keluarga. Komunikasi dalam keluarga dapat mengantar seseorang dalam gangguan berhubungan, bila keluarga hanya menginformasikan hal-hal yang negatif akan mendorong anak menyebarkan harga diri rendah.

b. Faktor presipitasi 

Faktor presipitasi ialah faktor penggagas terjadinya suatu masalah. Penyebab isolasi sosial berdasarkan faktor presipitasi antara lain sebagai berikut:

  1. Stres sosiokultural. Stres dapat ditimbulkan oleh alasannya ialah menurunnya stabilitas unit keluarga dan berpisah dari orang yang berarti, misalnya alasannya ialah dirawat di rumah sakit.
  2. Stressor psikologis. Ansietas berat yang berkepanjangan terjadi bersamaan dengan keterbatasan kemampuan untuk mengatasinya.

Tanda dan Gejala Isolasi Sosial

Observasi yang dilakukan pada klien dengan isolasi sosial akan ditemukan data obyektif yaitu kurang spontan terhadap duduk perkara yang ada, apatis (acuh terhadap lingkungan), ekspresi wajah kurang berseri (ekspresi bersedih), efek tumpul, menghindar dari orang lain, tidak ada kontak mata atau kontak mata kurang, klien lebih sering menunduk, berdiam diri dalam kamar, bahkan tidak bisa merawat dan memperhatikan kebersihan diri (Dalami, Suliswati, Rochimah et.al, 2009).

Selain itu beberapa tanda dan gejala lain yaitu komunikasi lisan menurun bahkan sama sekali tidak ada, klien tidak bercakap-cakap dengan klien lain atau perawat (mengisolasi diri sendiri/menyendiri), menolak kekerabatan dengan orang lain dengan memutuskan percakapan atau pergi bila diajak bercakap-cakap, pasien tampak memisahkan diri dari orang lain misalnya, pada ketika makan, terjadi gangguan pada pemasukan makanan dan minuman sehingga terjadi retensi urine dan feces, Pasien mengalami gangguan aktifitas atau aktifitas menurun dan pasien tampak kurang energik sehingga pasien mengalami gangguan harga diri (Dalami, Suliswati, Rochimah et.al, 2009).

Daftar Pustaka

  • Carpenito, M.L (2007). Buku saku diagnosa keperawatan, alih bahasa, Yasmin Asih, editor edisi bahasa indonesia, ed. 10, EGC: Jakarta.
  • Dalami, E., Suliswati., Rochimah., Suryati, K.R,. Lestari, W (2009). Asuhan keperawatan klien dengan gangguan jiwa.Ed.1.TIM: Jakarta.
  • Doenges, M.E., Tonsend, M.C., Moorhouse, M.F (2007). Rencana asuhan keperawatan psikiatri. Ed.3, EGC: Jakarta.
  • Suliswati., Payapo, T.A., Maruhawa, J., Sianturi, Y., Sumijatun (2005). Konsep dasar keperawatan kesehatan jiwa. Ed.1, EGC: Jakarta.
  • Stuart, G.W & Lararia, M.T (2001). Principles & practice of psichiatric nursing. Ed.7, St Louis: Mosby.