Kancil dengan Mamerang


Pada suatu hari, Salam di Rimba (sang Kancil) pergi berjalanjalan menghirup udara segar untuk mengagumi keindahan alam semesta dan menatap sekalian anak buah di dalam pemerintahannya. Berjumpalah ia suatu lubang daerah Mamerang. Anak Mamerang yang jumlahnya tujuh ekor itu keluar dari lubang dan bermain-main dengan asyiknya. Salam di Rimba pun datang menghampiri seraya bertanya, ”Hai, Anak-Anak, ke mana pergi mak-bapamu? Sahut anak Mamerang itu, ”Mak-bapa hamba setiap pagi mencari ikan untuk makanan hamba sekawan ini, pulangnya nanti sore Tuan.” Gemeretaklah gigi Salam di Rimba menahan marahnya, ia bergumam, ”Kurang ajar! Itulah perilaku Mamerang selalu membuat aniaya atas ikan-ikan yang tidak berdosa. Baiklah akan kubalas setimpal atas perbuatannya.”


Kemudian, Salam di Rimba terdiam sejenak. Tiba-tiba terdengarlah bunyi Burung Bubut terlalu banyak bunyinya bersahut-sahutan. Pikir Salam di Rimba, ”Wah, ini tentu ada ancaman perang.” Segera ia pun mengambil jurus pencak silat, kakinya diangkat tinggi-tinggi, kemudian dengan geramnya diperdaya anak Mamerang itu dan ketujuh anak Mamerang tadi habislah riwayatnya.

Di ufuk barat, langit memerah mengambarkan senja pun tiba. Tampak Mamerang laki-bini pulang ke daerah lubangnya itu. Ia agak heran, mengapa ketujuh anaknya tidak segera menyambutnya. Maknya memanggil-manggil, namun tak ada bunyi jawaban. Setelah masuk apa yang terjadi membuat jantung Mamerang laki-bini seolah-olah berhenti. Dilihatnya ketujuh anaknya mati. Setelah kedua laki-bini itu sadar, ia mengenal benar-benar bekas kaki Salam di Rimba dan yakin bahwa pembunuh ketujuh anaknya itu juga Salam di Rimba. Menangislah mereka sejadi-jadinya dan sedih sangat mendalam disertai rasa putus asa.

Maka Mamerang laki-bini bersepakat akan mengadukan peristiwa ini ke hadapan Nabi Yang Mahakuasa Sulaiman. 

Saat itu juga, Nabi Sulaiman bersemayam di atas takhta singgasana kerajaan di hadapan menteri hulubalang, rakyat, tentara, tak dapat dihitung jumlahnya. Aneka jenis manusia, jin, dan binatang terhampar duduk di tanah lapang menghadap baginda, bermacam-macam dilema dikemukakan semuanya dapat diatasi berkat kecerdikan Nabi Yang Mahakuasa Sulaiman. Mamerang laki-bini pun sudah menghadap dengan menyembah ia bersuara lantang, ”Daulat Tuanku, ampun Tuanku, sembah patik harap diampuni, diri hamba mohon pengadilan seadil-adilnya.”

”Atas perbuatan Perdana Menteri Tuanku, Salam di Rimba, dia telah tega membunuh ketujuh anak patik hamba yang tidak berdosa saat patik hamba pergi mencari makan dengan istri hamba.”

Setelah didengar oleh Nabi Yang Mahakuasa Sulaiman akan aduan kedua Mamerang itu, dia terdiam seketika heran akan perilaku menterinya Salam di Rimba.  Mungkinkah dia berbuat diktatorial kepada sesama hidup? Kemudian, Sri Baginda bertitah kepada Belatuk untuk memanggil Salam di Rimba.

Tidak selang berapa lama semua hadirin dikejutkan oleh kedatangan Salam di Rimba dengan langkah pelan-pelan, tegap, tetapi pasti tanpa rasa takut sedikit juga terhadap Nabi Yang Mahakuasa Sulaiman, inilah yang membuat semua yang hadir heran. Segera Salam di Rimba memberikan salam penuh hormat. Sri Baginda bersabda, ”Hai menteriku, Anda kupanggil karena ada dilema yang sangat penting, berdasar aduan Mamerang laki-bini, mengapa Anda berbuat diktatorial dan telah tega untuk membunuh ketujuh anak Mamerang yang tidak berdosa? Anda telah menganiaya dan Anda pun diancam hukuman mati bila tidak mempunyai alasan yang tepat.”

Salam di Rimba mendengarkan dengan penuh perhatian segera berlutut menyembah seraya berkata, ”Ya Sri Baginda patik mohon ampun beribu-ribu ampun. Perkenankanlah diri hamba menghaturkan sebab-sebab ketujuh anak Mamerang itu mati. Tuanku, saat itu. patik berjalan-jalan menghirup udara segar untuk mengagumi keindahan alam semesta dan memeriksa segenap rakyat hamba. Sampailah patik ke daerah Mamerang, dan patik lihat anak-anaknya sedang bermain, patik tanyakan ke mana mamak-bapanya, anaknya sahut-menyahut, sang Menteri, mak-bapa hamba mencari ikan untuk makanan hamba sekalian ini. Tiba-tiba patik mendengar bubut-bubut memalu gendang perang bersahut-sahutan. Patik berpikir, musuh dari negara manakah yang telah melanggar kota istana Sri Baginda; kemudian patik mengambil jurus-jurus silat untuk berkemas-kemas nginjak sana nginjak sini, hantam kanan hantam kiri. Tanpa patik sadari ketujuh anak Mamerang tadi mati, karena perbuatan patik.” Setelah didengar Baginda akan sembah Salam di Rimba segera Nabi Yang Mahakuasa Sulaiman menitahkan Burung Belatuk memanggil sang Bubut-Bubut. Sebentar saja sang Bubut-Bubut menghadap dan menyembah takzim. Sabda baginda, ”Hai sang Bubut-Bubut, benarkah engkau memalu gendang perang dengan tiada perintahku? Apa sebabnya atas perbuatanmu itu? Salam di Rimba telah membunuh ketujuh anak Mamerang yang tiada berdosa. Sang Bubut-Bubut dengan gemetaran menghaturkan sembah sambil berkata, ”Ampun, Tuanku, beribu-ribu ampun, patik memalu gendang tanpa perintah Tuanku karena patik lihat adik Biawak membawa pedang terhunus berlari ke sana-kemari. Patik berpikir tentu istana paduka Sri Baginda dilanggar musuh. Untuk itulah patik segera memalu gendang perang semoga semua rakyat bersiap siaga.” Sri Baginda menyuruh Belatuk untuk memanggil Biawak. Seketika itu, sang Biawak pun menghadap menghaturkan sembah. Sri Baginda bersabda pula, ”Hai, sang Biawak karena engkau kupanggil karena ada aduan dari Mamerang anaknya mati dipijak oleh Salam di Rimba. Salam di Rimba memijak anak Mamerang itu karena sang Bubut-Bubut memalu gendang perang.

Sebab sang Bubut-Bubut memalu gendang perang itu oleh karena engkau membawa pedang terhunus. Benarkah telah ada musuh datang?” Sang Biawak telah mendengar semua sabda Sri Baginda kemudian menjawab sambil menyembah, ”Ampun, sang Alam, beribu-ribu ampun, adapun patik membawa pedang terhunus itu disebabkan patik melihat adik Labi-Labi (kura-kura) hilir mudik selalu membawa perisai, patik pun segera mendekati dengan membawa pedang terhunus, perkiraan hamba tentulah musuh besar mulai bergerak ke negeri ini.” ”Lho, jika begitu si Labi-Labi yang salah” gumam Sri Baginda, selanjutnya, ”Hai, Belatuk, panggil segera Labi-Labi kemari.”

”Burung Belatuk segera terbang. Dalam waktu sekejap, sudah gotong royong dengan Labi-Labi menghadap raja. Nabi Yang Mahakuasa Sulaiman bersabda, ”Hai sang Labi-Labi, karena kau kupanggil ada dilema yang gawat atas dasar aduan si Mamerang kepadaku, anaknya mati dipijak Salam di Rimba karena dipijak Salam di Rimba karena mendengar sang Bubut-bubut memalu gendang perang karena ia melihat sang Biawak membawa pedang terhunus, dan engkau kemudian membawa perisai itu, musuh mana yang akan datang menyerang negeri kita?”

Labi-Labi pun menjawab dengan rasa ketakutan, ”Ampun Tuanku, beribu-ribu ampun, karena patik hilir mudik membawa perisai itu patik lihat saudaraku beratus-ratus bahkan beribu-ribu Kunang membawa obor di malam hari. Patik berpikir, tentu Sri Baginda kedatangan musuh yang besar, patik pun bersiap-siaplah dengan perisai patik.”

Telah didengar Nabi Yang Mahakuasa Sulaiman, dia segera menyuruh Burung Belatuk memanggil Kunang-Kunang. Belatuk segera terbang. Kunang-Kunang pun segera menghadap. Titah Baginda, ”Hai, Kunang-Kunang benarkah kau lihat hilir mudik membawa beribu obor? Musuh yang mana akan datang?” Kunang-Kunang menjawab takzim,” Ampun beribu ampun, Baginda, patik membawa beribu obor karena patik lihat adik Udang gotong royong membawa tombak canggah hilir mudik. Pikiran patik tentulah Yang Mulia Raja kedatangan musuh besar untuk itu kunyalakan ribuan obor gotong royong sahabat patik.”

”Belatuk, panggil segera Udang.” Titah Sri Baginda. Sang Udang segera menghadap. Sabda Baginda, ”Hai, sang Udang, benarkah engkau hilir mudik membawa tombak bercanggah? Musuh mana yang akan datang? Segera sang Udang menyembah, ”Ampun beribu ampun Sri Baginda, patik membawa tombak bercanggah karena patik lihat sang Sebarau hilir mudik berikat pinggang melengkung. Ia menanggung susah dan saudaraku Ketam pun selalu menangis, berlinang air matanya kemungkinan negerinya tidak aman, untuk itu patik selalu waspada.”

Setelah Nabi Yang Mahakuasa Sulaiman mendengar laporan dari sang Udang, segera Belatuk diperintah untuk memanggil sang Sebarau dan Ketam. Mujur bagi Belatuk karena ia bertemu di tengah jalan, kata Belatuk, ”Hai sang Sebarau dan Ketam sahabatku, Nabi Yang Mahakuasa Sulaiman memanggil Tuan hamba, marilah segera kita bertiga menghadap. Jawab sang Sebarau dan Ketam bersahut-sahutan, ”Sahabatku, Burung Belatuk, bekerjsama saya pun akan menghadap juga.” Tak berapa lama sampailah, Belatuk, Sebarau, dan Ketam menghadap. Sabda Baginda, ”Hai Ketam dan engkau Sebarau, karena engkau berdua kami panggil ini berdasarkan pengaduan Mamerang atas Salam di Rimba konon anaknya mati diinjak-injak Salam di Rimba.

Sebab Salam di Rimba menginjak-injak anak Mamerang itu karena sang Bubut-Bubut memalu gendang perang karena ia melihat sang Biawak membawa pedang terhunus karena melihat Labi-Labi ke mana-mana membawa perisai karena ia melihat beribu-ribu Kunang-kunang membawa obor karena melihat sang Udang membawa tombak bercanggah dan mengapa sang Udang membawa tombak canggah karena ia melihat engkau berikat pinggang melengkung dan Ketam selalu menangis laiknya rupa orang di dalam kesusahan. Kalau memang benar, apakah kesusahanmu berdua? Adakah musuh besar akan melanggar beta atau siapa yang telah membuat aniaya terhadapmu?”

Setelah mendengar sabda sang Prabu, sang Sebarau dan Ketam pun menyembah, ”Oh, tuanku ampun, sembah sujud patik selalu patik sampaikan ke hadapan duli Sri Baginda, bekerjsama sudah lama patik merasa takut, hidup tidak aman karena keluarga patik dan rakyat adikku Ketam selalu dianiaya oleh Mamerang sehingga rakyat patik dan tentara patik, tinggal separo, karena tiap hari dimakannya dan untuk ketujuh anak Mamerang.

Maka inilah yang selalu menjadi kesusahan patik berdua dan ini saksi hidup adik Udang tahu atas polah tingkah si Mamerang, tiap hari hanya membunuh, ya membunuh rakyat patik. Maka patik mohon pengadilan yang seadil-adilnya.”

”Setelah Baginda mendengarkan laporan sang Sebarau dan Ketam, Sri Baginda bertitah kepada Mamerang dengan nada yang murka, ”Hai, Mamerang, benarkah tingkahmu laki-bini selalu membuat aniaya atas rakyat Sebarau dan rakyat Ketam? Mamerang menghaturkan sembah sambil berkata gemetaran, ”O, Sri Baginda patik mohon ampun beribu-ribu ampun, apa yang dikatakan Sebarau dan Ketam itu semua benar adanya dan patik berdua mengakui segala perbuatan patik. Patik sanggup mendapatkan semua akhir dan hukuman apa yang diberikan oleh Sri Baginda, tetapi sekali lagi patik mohon ampun.”

Kemudian, Sri Baginda bersabda ”Hai, Salam di Rimba kemenangan di pihakmu. Perbuatanmu sungguh-sungguh bijaksana dan engkau tidak salah, ketujuh anak Mamerang mati sebagai penebus dosa mak-bapanya.”


Sumber: Perintis Sastra,C. Hooykaas