Kisah Kura-Kura Ingin Terbang


Di bawah pohon flamboyan yang sedang berbunga, berteduh seekor kura-kura. Ia tampak sedih. Air matanya menetes membasahi pipinya yang mungil dan putih. Ia tak sanggup mengusap air matanya alasannya ialah keempat kakinya yang pendek tak kuasa menyentuh kepalanya.

“Kenapa kau menangis, Ra?” tanya seekor kupu-kupu yang kebetulan melintas. Sayap kupu-kupu itu sangat indah. Semua warna pelangi ada padanya. Dia biasa dipanggil Furi.


“Furi, saya bosan jadi kura-kura. Lihat jalanku makin lama makin lambat alasannya ialah saya harus menggendong cangkang ini ke mana pun saya pergi. Huh! Berat sekali rasanya. Aku capek. Andai saya kupu-kupu sepertimu pasti menyenangkan. Aku mampu terbang ke mana pun saya suka. Tubuhmu begitu ringan dan sayapmu begitu cantik. Hu…hu…hu…,” Rara menangis. “Aku iri padamu Furi. Aku iri sekali. Hu-hu-hu,” Rara menangis lagi.

“O,jadi itu yang membuatmu menangis. Sekarang diamlah, Ra. Aku akan menghiburmu dengan tarian kupu-kupuku. Diam ya?” hibur Furi yang kemudian mulai menari. Sayap-sayap bagus pelanginya dikepak-kepakkan. Tubuh jingganya meliuk-liuk. Sejenak ia mengambang di udara, lalu menari berputar dan hinggap di kelopak mawar. Alangkah indahnya tarian Furi. Anehnya, tangis Rara semakin kencang. Furi menjadi heran dan resah melihat tingkah Rara. “Lho, dihibur, kok, malah keras nangisnya. Diamlah Rara! Bergembiralah. Tra-la-la! Mari menyanyi!”

“Hu…hu…hu melihat tarianmu itu saya semakin iri. Hu…hu…hu…andai saya kupu-kupu sepertimu, saya pasti mampu menari sepertimu. Hu…hu…hu…” “Dasar cengeng! Diamlah, Rara! Kamu kan sudah besar! Apa kau tidak aib merengek-rengek menyerupai itu? Sudah besar, kok, nangis. Harusnya kau malu!” Terdengar sebuah suara. Furi dan Rara kaget. Ia tidak melihat siapasiapa selain mereka berdua, tapi bunyi itu bukan bunyi Rara maupun Furi. Rara menengok ke kiri dan kanan. Tidak ada siapa-siapa. Rara memutar badan, menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa.

“Hei, perlihatkan dirimu, siapa kamu?” tanya Furi.

“Aku di sini Furi. Aku di atas cangkang Rara. Masak sih kau tidak lihat?” ternyata beliau seekor bunglon yang biasa dipanggil Pilon. Pantas beliau tidak kelihatan. Ia memang mampu mengubah warna kulit tubuhnya sesuai kawasan yang dihinggapi. Kini Furi mampu melihat eksistensi si Bunglon.

“Rara, saya kasih tau ya, semua makhluk di dunia ini memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jadi, kau jangan iri pada kelebihan yang dimiliki Furi. Lebih baik kau mencari tahu apa kelebihanmu. Pasti ada,” kata Pilon.


“Pilon, kau mampu bilang begittu alasannya ialah kau bukan kura-kura sepertiku. Coba bayangkan bila ke mana-mana kau harus menyeret cangkang seberat ini. Kamu pasti akan menderita sepertiku. Kamu pasti akan menangis. Hu…hu…hu…!”

“Tapi kau juga mempunyai banyak kelebihan kan? Kamu mampu menyelam ke dalam air. Apa itu tidak menyenangkan? Kamu mampu melihat keindahan pemandangan di dalam air, sedangkan Furi atau saya hanya mampu melihat keindahan alam di darat saja!” Setelah berkata demikian, Pilon meloncat dari atas cangkang Rara menuju ke sebuah watu yang terletak persis di depan mata Rara. Sekujur tubuh Pilon serta merta berwarna hitam sehitam watu kali di depan Rara. Rara masih menangis tersedu-sedu.

Hingga terdengarlah bunyi petir menggelegar. Bunyi petir itu mengalahkan bunyi tangis Rara. Langit mendung, gelap, matahari tertutup awan pekat. Lalu tampak cahaya kilat di angkasa yang disertai tiupan angin kencang. Furi goyah diterpa angin. Ia berusaha tapi angin semakin kencang. Bahkan kelopak mawar, kawasan Furi hinggap, lepas terbawa angin. Furi terseret angin. Ia tak ubahnya selembar bulu yang tertiup angin kencang. “Tolong aku! Tolong aku! Tolooong!” Meski Furi telah berteriak-teriak minta tolong, Pilon dan Rara tak mampu berbuat apa-apa. Mereka hanya mampu melihat Furi terbawa angin.

Tak lama kemudian hujan turun dengan derasnya. Udara terasa sangat dingin. Rara menyembunyikan kepala, keempat kaki,dan ekornya ke dalam cangkangnya. Kini, Rara sangat hangat. Sementara Pilon menggigil kedinginan. Dalam cangkangnya Rara teringat pada apa yang dikatakan Pilon bahwa semua makhluk di dunia ini memiliki kekurangan dan kelebihan masingmasing. Rara membayangkan seandainya beliau seekor kupu-kupu menyerupai Furi. Wah, kini pasti sudah kehujanan, berair kuyup. Sayap-sayapnya yang cantik jadi sulit digerakan. Setelah berpikir demikian, Rara sadar. Tak ada gunannya iri pada kelebihan yang dimiliki Furi.

Hujan berangsur-angsur reda. Perlahan-lahan sinar matahari datang. Rara menggeliat. Oah! Betapa enaknya jadi kura-kura. Rara menggeliat lagi. Oah! Lalu kepalanya keluar dari cangkang dan melihat ke atas. Wah, ada bianglala, pelangi yang indah, bagaikan sayap kupu-kupu raksasa. Cantik! “Pilon, lihat ke atas! Ada pelangi, tuh,” teriak Rara. “Ya, saya tahu,” jawab Pilon sambil mengibas-kibaskan kepalanya yang basah. Tubuh dan ekornya bergetar. Pilon masih kedinginan. “Eh,ngomong-ngomong, apa kau masih ingin menyerupai Furi?” tanya Pilon. “Apa kau masih iri pada sayap cantik Furi? Masih ingin mampu terbang? Masih bosan menjadi kura-kura?” lanjut Pilon. Rara menggeleng lemah sembari tersenyum malu. “Aku tidak iri lagi pada Furi, tapi saya tetap duka alasannya ialah kehilangan sahabat secantik Furi. Aku harap ia baik-baik saja,” kata Rara lirih.

Rara dan Pilon sama-sama terdiam. Lama sekali, sambil memandangi indahnya pelangi di atas cakrawala. Dalam membisu mereka berdoa supaya Furi tidak celaka dan mampu menikmati indahnya pelangi. Lalu terdengar teriakan dari kejauhan,”Aku datang! Aku datang! Aku datang!” “Ah, Furi datang,” Rara dan Pilon saling berpandangan. Furi tampak bugar dan berseri, seakan tak pernah duka dan merasa sakit. Padahal ia tadi terembus angin kencang. Kini, Furi datang bersama teman-temannya. Banyak sekali. Semuanya bersayap seindah pelangi. Menari-nari di udara bebas. Udara terasa sejuk segar. Langit terang, Matahari mengintip di balik awan seolah memberi kesempatan pada bianglala untuk menampakkan diri lebih lama.

Bianglala laksana kupu-kupu yang banyak. Terbang mengambang di sekeliling awan. Menjalin sebuah selendang bidadari yang melambai-lambai di udara bebas. Awan-awan tampak menyerupai kura-kura raksasa berwarna putih. Bergerak lambat mengiringi tarian kupu-kupu. Indah sekali.