Kisah Pangeran Umbara


Pangeran Umbara disiapkan untuk menggantikan Raja Kempaka kelak. Karena itu, ia harus berguru aneka macam macam ilmu semenjak kecil. Akan tetapi, Pangeran Umbara lebih senang bermain dengan Angin Kencang, seekor anak rusa berbulu emas. Berkali-kali ia lari dari pengawal. Kemudian, berkelana sampai ke tengah hutan.

Suatu hari, Raja Kempaka murka alasannya ialah taman istana porak-poranda. Penyebabnya ialah seekor anak gajah, dua ekor anak macan tutul, enam ekor anak rusa, dan empat ekor anak monyet. ”Mereka itu teman-teman Angin Kencang,” bantah Pangeran Umbara begitu dimarahi Raja Kempaka. “Kamu selalu menyalahkan Angin Kencang. Karena Angin Kencang peliharaanmu, kau yang harus bertanggung jawab! Kamu harus membantu Pak Tunggul, tukang kebun istana, merawat taman selama dua bulan,” kata Raja Kempaka.
Di dalam hati, Pangeran Umbara merasa senang. Selama masa hukuman yang menyenangkan itu, Pangeran Umbara bekerja di taman dengan giat. Ia menyirami tanaman,memberi pupuk, dan menanam aneka jenis bunga. Ajaibnya, semua tanaman tumbuh subur. Bunga-bunga menebarkan wargi ke mana-mana. Kupu-kupu aneka warna beterbangan di taman yang indah.
Aku lebih senang membantu Pak Tunggul. Aku ingin menjadi tukang kebun saja!” ujarnya. “Kau akan menjadi raja. Kaprikornus kau harus berguru dari sekarang,” bujuk Raja Kempaka. “Tapi saya tidak suka pelajaran itu! Aku lebih suka kebun, Ayah,” bantah Pangeran Umbara. “Kamu harus tetap menjadi raja penggantiku!” sentak Raja Kempaka. 
Pangeran Umbara sangat kecewa. Ia pergi menyendiri ke gudang Pak Tunggul. Tiba-tiba, Pangeran Umbara melihat se buah botol bibit. Di dalamnya terdapat gumpalan putih ibarat kapas. “Bibit tanaman apa ini?” tanya Pangeran Umbara dalam hati. Penasaran, dibukanya tutup botol itu. Tiba-tiba, gumpalan putih itu be terbangan terbawa angin. Ups! Buru-buru botol bibit ditutupnya kembali. Pangeran lalu berlari mengejar gumpalan putih itu.
Keesokan harinya terjadi keanehan. Di beberapa sudut taman istana, tumbuh sejenis tanaman aneh. Seluruh batang, daun, dan bunganya berwarna sangat putih. Wanginya semerbak sampai jauh ke seluruh pelosok negeri. “Bunga kesturi telah tumbuh. Seseorang telah menanamnya. Siapa dia?” tanya Penasihat Raja. Pak Tunggul membisu saja. “Aku kemarin menumpahkan gumpalan putih di gudang bibit. Maafkan aku, Pak Tunggul,” kata Pangeran Umbara jujur. Penasihat Raja terkejut. “Kaulah orang pilihan itu, Nak. Dalam seribu tahun, belum tentu ada yang dapat menanam bunga itu sampai dapat tumbuh. Tanganmu telah diberi kekuatan untuk menumbuhkan tanaman apa saja. Negeri ini akan subur dan tetap hijau,” tutur Penasihat Raja terharu. Bertahun-tahun kemudian, Pangeran Umbara menjadi raja, menggantikan ayahnya yang wafat. Ia menjadi raja yang berakal mengelola lingkungan hidup.