Kisah Selembar Kulit Domba


Di sebuah desa, hiduplah seorang pedagang bersama kedua putranya. Ketika ia meninggal, harta yang tersisa hanyalah sepuluh ekor domba, sebuah rumah, dan kebun yang tidak terlalu luas.

Sebelum meninggal, pedagang itu berpesan kepada putra tertuanya, “Anakku, ambillah separuh harta warisanku dan berikan sisanya untuk adikmu.

“Sayangnya, si Sulung terlalu serakah. Dari sepuluh ekor domba yang ada, ia hanya menawarkan seekor domba yang paling kurus pada si Bungsu. “Dan kebun itu…,” si Sulung menunjuk hamparan pepohonan di hadapan mereka, “… biarlah saya yang mengurusnya. Aku butuh uang lebih banyak untuk merawat domba-dombaku.”
Adiknya hanya mengangguk patuh. Ia tidak tahu rencana licik kakaknya. Bahkan, kesudahannya rumah warisan ayah mereka pun menjadi daerah tinggal si Sulung beserta istrinya.
Kini, si Bungsu tinggal di sebuah gubuk kecil di pinggiran kebun kakaknya. Setiap pagi, ia memberi makan dombanya. Ia menggembalakan dombanya di padang rumput dan dibiarkan minum sepuasnya di sebuah sungai kecil. Si Bungsu juga tidak pernah lupa membersihkan kandangnya.
Karena ketekunannya, domba itu semakin sehat. Bulunya mengilap bersih sehingga tampak gagah. Saat mengetahui si Bungsu memiliki domba yang rupawan dan sehat, si Sulung mulai iri.
Pikirnya, “Pantas kebunku tidak menghasilkan apa-apa. Pasti adikku membiarkan dombanya merumput di kebunku. Lalu, domba itu menginjak-injak pohon dan memakan tunastunas muda!”
Suatu malam, si Sulung mengendap-endap menuju gubuk si Bungsu. Setelah yakin saudaranya benar-benar terlelap, ia menuju sangkar dan mencuri domba si Bungsu. Domba itu lalu disembelih dan dimasak.
Si Bungsu sangat terkejut dan sedih. Akan tetapi, ia tidak mampu melawan kakaknya. Ia menangisi kematian domba yang sangat disayanginya. Si Bungsu lalu mengambil kulit domba itu di daerah sampah kakaknya. Dengan hati-hati, kulit itu dibersihkannya. Lalu, dibawa ke pasar untuk dijual.
….

Sampai suatu saat, si Bungsu terjatuh, menimpa kulit dombanya. Tiba-tiba, ter dengar sebuah suara, “Tralala trilili…. Tulalit tulalit duuut….”

Orang-orang di sekitar si Bungsu merasa heran. Ternyata kulit domba itu mampu mengeluarkan bunyi asing ketika diduduki. Satu per satu mereka mencobanya. Dan setiap kali dicoba, kulit itu mengeluarkan suara. Orangorang mulai menawar kulit domba si Bungsu dengan harga tinggi. Akhirnya, si Bungsu pulang membawa dua kantung emas dari si penawar tertinggi.
Si Bungsu pribadi kaya mendadak. Ia membeli sebuah rumah sederhana dan kebun untuk bercocok tanam. Sisa emasnya ia simpan untuk keperluan mendadak.
Mendengar keberhasilan si Bungsu, terbit rasa iri di hati si Sulung. Ia juga ingin mencoba menjual kulit-kulit dombanya. Pikirnya, “Aku akan menyembelih domba-dombaku. Dua kantung emas untuk satu lembar kulit. Aku akan kaya. Aku akan kaya! Aku akan kaya!”
Kemudian si Sulung pergi ke sangkar miliknya. Ia menyembelih semua dombanya yang kurus dan tidak terawat. Setelah membersihkan kulit-kulit dombanya, ia segera pergi ke pasar.
Ternyata perkiraan si Sulung meleset. Tidak ada seorang pun yang menawar barang dagangannya. Itu alasannya yaitu semua kulit miliknya kusam dan buruk. Juga tidak mampu bersuara asing menyerupai milik si Bungsu. Sadarlah si Sulung akan kesalahannya.