Penularan dan Pencegahan Virus MERS-CoV

Apa itu MERS-CoV 

MERS-CoV yakni abreviasi dari Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus. Virus ini merupakan jenis gres dari kelompok Corona virus (Novel Corona Virus). Virus ini pertama kali dilaporkan pada bulan Maret 2012 di Arab Saudi. MERS-CoV yakni penyakit sindrom pernapasan yang disebabkan oleh virus corona yang menyerang terusan pernapasan mulai dari yang ringan hingga berat (Kemenkes RI, 2013).

Virus MERS-CoV
Virus MERS-CoV

Penularan MERS-CoV 

Corona virus yakni keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit pada insan dan hewan. Secara genetik kerabat paling akrab dari MERS-CoV yang telah ditemukan hingga dikala ini merupakan corona virus yang berasal dari kelelawar, sehingga menyebabkan kecurigaan bahwa MERS-CoV juga berasal dari kelelawar. Ada juga bukti-bukti yang mengarahkan bahwa virus MERS-CoV ditransmisikan melalui kontak dengan unta atau kambing. Hasil penelitian memperlihatkan kebanyakan unta, meski tidak semua, terinfeksi jenis virus yang secara genetik hampir identik dengan virus yang menginfeksi manusia.

Penularan Virus MERS-CoV
Penularan Virus MERS-CoV

Mekanisme penyebaran virus Corona dari hewan ke insan masih diteliti hingga dikala ini, meskipun ada dugaan bahwa insan pertama yang terinfeksi mungkin pernah secara tidak sengaja menghirup debu kotoran kering Kelelawar yang terinfeksi.

Virus korona ini dapat menular antar insan secara terbatas, dan tidak terdapat transmisi penularan antar insan secara luas dan berkelanjutan. Mekanisme penularan belum diketahui, namun menurut Kemenkes RI (2013), kemungkinan penularannya dapat melalui penularan langsung, yakni melalui percikan dahak (droplet) pada dikala pasien batuk atau bersin. Penularan tidak pribadi dapat melalui kontak dengan benda yang terkontaminasi virus.

Terdapat kekerabatan epidemiologis pribadi apabila dalam waktu 14 hari sebelum timbul sakit:

  1. Melakukan kontak fisik erat, yaitu seseorang yang kontak fisik atau berada dalam ruangan atau berkunjung (bercakap-cakap dengan radius 1 meter) dengan kasus probable atau konfirmasi ketika kasus sedang sakit. Termasuk kontak erat yang dimaksud antara lain: 1) Petugas kesehatan yang memeriksa, merawat, mengantar dan membersihkan ruangan di daerah perawatan kasus. 2) Orang yang merawat atau menunggu kasus di ruangan/ orang yang tinggal serumah dengan kasus. 3) Tamu yang berada dalam satu ruangan dengan kasus. 
  2. Bekerja bersama dalam jarak akrab atau di dalam satu ruangan. 
  3. Bepergian bersama dengan segala jenis alat angkut/ kendaraan.

Negara dan Kasus yang ditemukan 

Terdapat 9 negara yang telah melaporkan kasus MERS-CoV (Perancis, Italia, Jordania, Qatar, Arab Saudi, Tunisia, Jerman, Inggris dan Uni Emirat Arab). Semua kasus berafiliasi dengan negara di Timur Tengah (Jazirah Arab), baik secara pribadi maupun tidak langsung.

Daerah Penyebaran Virus MERS-CoV
Daerah Penyebaran Virus MERS-CoV

Sejak September 2012 s/d 01 Agustus 2013 jumlah kasus MERS-CoV yang terkonfirmasi secara global sebanyak 94 kasus dan meninggal 47 orang (CFR 50 %). Hingga dikala ini belum ada laporan kasus di Indonesia.

Tanda, Gejala dan Tata Laksana 

Kebanyakan orang yang terinfeksi dengan MERS-COV mengalami penyakit pernapasan akut parah dengan gejala demam, batuk, sesak napas. Beberapa orang juga memiliki gejala gastriintestinal menyerupai diare, mual, atau muntah. Bagi banyak orang dengan MERS, komplikasi yang lebih parah diikuti menyerupai pneumonia dan gagal ginjal. Sekitar 30% dari orang dengan MERS meninggal.

Pemeriksaan Virus MERS-CoV
Pemeriksaan Virus MERS-CoV

Virus corona diketahui dapat menyebabkan kesakitan pada insan mulai dari yang ringan hingga berat, sehingga perlu mengenali manifestasi Infeksi Saluran Pernapasan Akut Berat (ISPA)/ SARI. Terdapat beberapa penilaian yang harus dilakukan sebelum menentukan pasien suspek MERS-CoV, yakni (Kemenkes RI, 2013):

  1. Anamnesis: demam suhu > 380 C, batuk dan sesak, ditanyakan pula riwayat bepergian dari negara timur tengah 14 hari sebelum onset.
  2. Pemeriksaan fisis: sesuai dengan gambaran pneumonia. 
  3. Radiologi: Foto toraks dapat ditemukan infiltrat, konsolidasi hingga gambaran ARDS.
  4. Laboratorium: ditentukan dari pemeriksaan PCR dari swab tenggorok dan sputum.

Pencegahan dan Pengobatan 

a. Pencegahan 

Pencegahan terhadap bisul MERS-CoV dilakukan melalui penerapan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), menghindari kontak erat dengan penderita, menggunakan masker, menjaga kebersihan tangan dengan sering mencuci tangan memakai sabun dan menerapkan adab batuk ketika sakit. Kebersihan tangan mencakup mencuci tangan dengan sabun dan air atau menggunakan antiseptik berbasis alkohol. Penggunaan APD tidak menghilangkan kebutuhan untuk kebersihan tangan. Kebersihan tangan juga dibutuhkan ketika menggunakan dan terutama ketika melepas APD (Kemenkes RI, 2013).

b. Pengobatan 

Hosting Unlimited Indonesia

Pengetahuan ihwal penyakit MERS-CoV dan transmisinya dikala ini sangat terbatas sehingga dibutuhkan ruang isolasi untuk merawat di RS kasus-kasus probabel dan konfirmasi bisul MERS-CoV. Hal ini akan menjamin kualitas dan keamanan perawatan maupun perlindungan kesehatan masyarakat. Pengobatan MERS-CoV yang bersifat spesifik hingga dikala ini masih belum ada, begitu juga dengan vaksinnya. Pengobatan hanya bersifat suportif tergantung kondisi pasien. WHO tidak merekomendasikan pinjaman steroid dosis tinggi.