Renungan : Hidup Bagaikan Sebuah Kertas

Akte kelahiran, kartu keluarga, piagam kelulusan, ijazah, surat nikah, paspor, kepemilikan rumah, resep dokter, permintaan acara, semua kehidupan kita memakai kertas. Seiring waktu berlalu, kertas kita robek, kemudian dibuang atau malah dibakar. Seperti itulah hidup, bagaikan sebuah kertas.

 semua kehidupan kita memakai kertas Renungan : Hidup Bagaikan Sebuah Kertas

Berapa banyak orang bersedih alasannya “kertas-kertas” yang dimilikinya? Berapa banyak pula orang begitu senang dengan “kertas-kertas” yang dimilikinya? Tetapi, ada satu lembar kertas yang tidak akan pernah dilihat oleh pemiliknya, yaitu: SURAT KEMATIAN. Maka persiapkanlah diri kita untuk menghadapi kematian, alasannya itu ialah “KERTAS” terpenting.

Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallohu ‘anhu berkata, “Dua hal yang tidak akan kekal dalam diri seorang mukmin: masa mudanya dan kekuatannya. Dua hal yang berkhasiat untuk setiap mukmin: watak yang mulia dan jiwa yang lapang. Dua hal pula yang akan mengangkat derajat seorang mukmin: perilaku tawadhu (rendah hati) dan menolong kesulitan orang lain. Dan dua hal pula yang menjadi penolak bahaya: sedekah dan silaturahmi.”

Ada tiga fase hidup yang terasa sangat unik, tapi terkadang kita tidak pernah menyadarinya.

1. Masa puber
Kita mempunyai waktu dan kekuatan, tapi tidak mempunyai uang.
2. Masa bekerja
Kita mempunyai harta dan kekuatan, tapi tidak mempunyai waktu.
3. Masa tua
Kita mempunyai harta dan punya waktu, tapi tidak mempunyai kekuatan.

Inilah Kehidupan

Ketika kita menerima sebuah karunia maka akan hilang karunia lainnya. Kecuali bagi kita yang selalu bersyukur. Barangkali kita merasa bahwa kehidupan orang lain selalu lebih baik dari kehidupan kita. Sementara orang lain pun meyakini, bahwa kehidupan kita lebih baik darinya. Hal itu dikarenakan kita melupakan hal yang sangat penting dalam hidup kita, yaitu bersikap Qana’ah (mensyukuri apa yang kita miliki). Seandainya ada toko yang menjual kebahagiaan, kita akan melihat orang-orang akan berebut mendatanginya atau kita juga ikut-ikutan. Kemudian membelinya meskipun mahal harganya. Kita melupakan bahwa kebahagiaan itu dengan menyempurnakan rasa syukur dan sabar mendapatkan takdir kehidupan ini. Diiringi doa dalam setiap langkah perjuangan kita. Beribadah kepada-Nya dengan ketundukan dan kepatuhan.

Sadarilah bahwa masih ada dua “kertas” yang akan harus kita terima, yaitu: Kertas catatan amal ibadah dan tindak kemaksiatan kita. Dan kertas mana yang ingin kita pilih untuk menolong hidup kelak di akhirat?

Baarakallohufiikum.
Catatan seorang hamba.

Sumber: Kiriman teman di Grup WhatsApp


Sumber http://www.ngeblogasyikk.id