Tempurung untuk Ibu dan Bapak

Hasan tidak tega membiarkan ibunya hidup sendirian. Ia menyarankan ibu tinggal bersamanya. Istrinya pun tidak berkeberatan. Memang selama ini ibu Hasan sering sakit-sakitan, batuk-batuk alasannya yaitu sudah terlalu tua.

Selang beberapa lama, dalam rumah tangga itu mulai terjadi perselisihan. Terlebih lagi semenjak hamil istri Hasan semakin membesar, penyakit batuk ibu mertua bertambah parah. Nazulah, istri Hasan mulai bingung. Setelah merasa hampir bersahabat melahirkan, Nazulah berkata kepada suaminya. “Bang, kita harus berpisah dari ibu,” jawab Nazulah.

Hasan melongo mendengar undangan istrinya. Namun, Hasan meng anggap alasan istrinya cukup besar lengan berkuasa terutama demi anak mereka. Setelah istrinya melahirkan, Hasan membuat sebuah gubuk kecil di pekarangan belakang rumah. Dengan perasaan yang sedih, ia meminta ibunya pindah tinggal ke gubuk itu. Tanpa duka sedikit pun ibunya pindah ke gubuk itu.

Mula-mula, segala kebutuhan ibu Hasan masih diperhatikan oleh Hasan dan Nazulah. Akan tetapi, anak mereka tidak terasa tumbuh semakin besar. Seluruh perhatian Hasan dan istrinya di tumpahkan kepada anaknya yang berjulukan Maqbullah.

Mereka terlena mengurus anaknya itu, sedangkan ibunya yang sudah renta dan didera penyakitnya itu telantar di gubuk renta di belakang rumah. Piring dan gelas untuk makan atau minumnya sudah lama pecah, tetapi Nazulah lupa menggantinya dengan yang baru. Untuk makan dan minumnya, si nenek terpaksa mencari tempurung kelapa.

Sekarang, usia Maqbullah sudah tiga tahun. Dalam usia itu, Maqbullah tidak tahu bahwa yang tinggal di gubuk tersebut yaitu neneknya sendiri. Ia dilarang oleh bapak dan ibunya bermain-main mendekati gubuk renta itu.

Pada suatu hari, bapak dan ibu Maqbullah sedang pergi ke luar rumah. Maqbullah penasaran dan berhasil me nyelinap ke gubuk. Dengan mengendap-endap, ia mengintip melalui lubang pintu. Dilihatnya ada seorang nenek sedang duduk di atas dipan rombeng dengan pakaian yang kumal. Dengan mulutnya yang mungil, ia memanggil-manggil.

“Nek, Nenek, bukakan pintu! Nek.”

Alangkah gembiranya wajah nenek itu. Sambil terseok-seok, ia berjalan ke pintu.

“Siapa, Nak ?” tanya nenek itu.

“Bullah,” jawab si anak.

“Oh, cucuku. Di mana bapak dan ibumu?”

“Pergi… pergi jauh,” jawab Maqbullah dengan bunyi mungilnya.


Hingga tengah hari, Maqbullah bermain di situ. Rupanya anak kecil itu haus. Ia merengek kepada neneknya.

“Nek, mau minum,” ucapnya.

Si nenek mengambil tempurung kelapa.

“Nenek tidak punya gelas, nenek hanya punya ini untuk minum.” Anak kecil itu heran.

Demikianlah, ketika sudah puas bermain-main di situ, Maqbullah pulang.

Pada suatu hari, Hasan bersama istri dan Bullah berjalan-jalan berkeliling kota. Di pinggir jalan ada selokan kotor. Di dalam selokan itu ada sebuah tempurung kelapa yang tersangkut. Melihat tempurung itu Maqbullah memaksa minta diambilkan. Setelah Hasan mengambil tempurung itu dan ia membersihkannya, Nazulah bertanya kepada anaknya.

“Untuk apa Bullah minta tempurung?” Tanpa berpikir panjang si cilik menjawab.

“Untuk kawasan minum ibu bila ibu sudah tua.” Hasan dan istrinya terkejut dengan tanggapan anaknya itu.

“Mengapa begitu?”

“Nenek Bullah yang tinggal di gubuk itu juga diberi makan dan minum memakai tempurung.” Lanjutnya, “Kalau Bullah sudah besar dan ibu sudah tua, Bullah akan memberi ibu tempurung dan mengembangkan gubuk untuk tidur ibu.”


Mendengar tanggapan anaknya itu, sadarlah Hasan dan Nazullah akan perbuatan mereka. Tiba-tiba, mereka takut bahaya Allah bagi belum dewasa yang durhaka kepada orangtua. Sejak dikala itu, berubahlah sikap mereka terhadap orangtuanya. Diajaknya nenek Bullah berkumpul kembali bersama mereka di dalam rumah yang terhormat. Mereka merawat dan mengobati orangtuanya semoga penyakitnya sembuh. Maqbullah pun tumbuh menjadi anak yang lengkap kebahagiaannya.