Hikayat Mahsyodhak


Tersebutlah perkataan seorang saudagar Buka Sakti namanya yang tidak beranak. Dia dianjurkan oleh hebat nujum supaya kawin lagi. Tidak lama setelah perkawinannya dengan Ratna Kanisa, lahirlah seorang anak yang arif lagi bijaksana. Sejak kecil, ia sudah dapat menolong bapaknya menghukum sekalian orang di dalam dusun dengan betul dan benarnya, serta dengan keras siasatnya. 

Raja Juda hendak menimbulkan ia pengawal menteri, tetapi keempat guru tidak setuju. Kata mereka, Mahsyodhak itu yaitu ”budak hutan padang, tiada tahu bicara bahasa negeri.” Sementara itu, makin banyak kemuskhilan hukum yang diselesaikan oleh Mahsyodhak, di antaranya mengembalikan seorang perempuan muda yang mencoba melarikan diri dengan badui dari suaminya yang sah, seorang lelaki yang sudah renta lagi bungkuk belakangnya. Dia juga berhasil menentukan siapa ibu dari seorang anak dengan mengancam akan membelah anak itu menjadi dua. Dia juga menentukan siapa pemilik satu permadani yang cantik.

Ketika Mahsyodhak datang kepada umurnya tujuh tahun, raja hendak menimbulkan ia pegawai negeri pula. Keempat guru raja meminta izin untuk mencoba kebijaksanaan Mahsyodhak dahulu. Mula-mula Mahsyodhak diminta menentukan ujung pangkal sebatang kayu; kemudian diminta menarik kokam ke dalam air, membuat tali pasir dan karenanya membubuh tali pada manikam. Semua persoalan diselesaikan Mahsyodhak. Maka Mahsyodhak mulai menjadi pegawai negeri …

Sekali peristiwa, setelah menandakan mengapa kambing erat baik dengan anjing, Mahsyodhak ditanya pula oleh raja, ”Mana lebih baik, orang berakal dengan orang berharta?” Mahsyodhak berpendapat, bahwa orang berakal lebih baik daripada orang yang berharta. Orang yang berakal boleh melepaskan diri dari kejahatan dan fitnah. Dengan nalar juga, orang boleh mencari harta.

Keempat guru raja menjawab, ”Orang berharta lebih baik daripada orang berakal, sebab banyak orang berakal menjadi hamba orang yang berharta.” Ratu lalu mengurungkan Mahsyodhok dan keempat orang guru dalam dua buah gedung yang dibuat dari papan, tetapi telah dibubuh kapur, sehingga kelihatan mirip gedung batu. Di dalam bilik, Mahsyodhak itu hanya ada sebilah pahat dan tukul, sedangkan dalam bilik keempat guru itu, kecuali ada pahat dan tukul, masih ada emas, perak, dan banyak sekali harta lainnya. Dekat gedung itu masih ada sebuah gedung yang diisi dengan nikmat-nikmat dari pada segala buah-buahan. Dengan akalnya, Mahsyodhak menemui gedung yang satu itu. Keempat guru kelaparan dan terpaksa membeli makanan dari Mahsyodhak dengan harga mahal. Akhirnya dikala mereka dikeluarkan dari gedung itu, mereka sudah kurus, kering; tetapi Mahsyodhak tetap sehat dan tambun. Keempat guru makin dengki kepada Mahsyodhak dan membuat fitnah, sehingga Mahsyodhak dienyahkan oleh raja dari negeri.

Tersebut pula perkataan dewata, artinya semangat negeri itu, merupakan diri mirip manusia. Ia mengemukakan empat teka-teki yang mesti dijawab; jikalau tidak, ia akan memutuskan batang leher raja dan menghumbankannya dari atas kerajaan. Raja ketakutan dan menyuruh memanggil Mahsyodhak kembali ke istana. Dengan mudah saja, Mahsyodhak menjawab teka-teki itu. Dewata itu berkata kepada raja, ”Hai Raja, hendaklah jangan kau dengarkan fitnah dan hendaklah kau periksa baik-baik barang suatu pekerjaan dan pelihara isi negeri ini, supaya tidak berdosa engkau pada kemudian hari. Karena dunia ini tiada awet adanya.”

Tatkala Mahsyodhak sudah empat belas tahun umurnya, raja hendak memberi istri kepadanya. Mahsyodhak meminta izin supaya ia mencari istri sendiri. Dengan memakai pakaian darji (tukang jahit) Mahsyodhak pun berjalan menuju ke luar kota. Di tengah jalan, ia bertemu dengan seorang perempuan muda yang terlalu baik rupanya, gilang-gemilang kilau cahaya mukanya dan kira-kira umurnya empat belas tahun. Nama perempuan itu Citata. Mahsyodhak mengikutinya ke rumah. Untuk mencoba kebijaksanaan Citata, Mahsyodhak memberi beras gadis kepada bunda Citata untuk dimasak. Citata mengetahui hal ini dan menggantikannya dengan beras yang tiada patah, yang mirip beras gading itu. Untuk mencoba kesabaran Citata, Mahsyodhak meruahkan gulai ke kepala Citata dengan mengatakan bahwa gulai itu tidak sedap. Citata tidak marah. Ia turun ke sungai, mandi, dan berlimau. Mahsyodhak sangat suka hatinya dan meminang Citata kepada ibu bapaknya. Pinangannya diterima dengan baik. Mahsyodhak meminta izin membawa Citata ke negerinya supaya boleh berkawin di hadapan ibu bapaknya. Permintaan itu juga dikabulkan.

Selang beberapa hari, Mahsyodhak pun berjalan pulang bahu-membahu dengan Citata. Tatkala hingga di tepi sungai, Mahsyodhak bertanya kepada Citata apakah sungai itu dalam atau tohor. Citata menyuruhnya menerka dengan tongkat yang ada di tangan. Hatta berapa lama, sampailah mereka di negeri wakaf. Di situ Citata disuruh menunggu, sebab ia hendak pulang ke rumah menyuruh keluarganya menyambut mereka. Sesampai di rumah, Mahyodhak menyuruh seorang sahaya lakilaki yang baik rupanya lagi muda pergi menerima Citata. Sahaya laki-laki itu berkata, Mahsyodhak yaitu penjual perempuan dan meminta Citata kawin dengannya. Citata tidak mau mengubah setianya dengan Mahsyodhak.

Pada keesokan harinya, Mahsyodhak menyuruh sepuluh orang perempuan membawa Citata ke hadapannya. Citata tidak mengenal Mahsyodhak dan dituduh berdusta lalu dikurung dalam sebuah rumah kecil. Pada malamnya, Mahsyodhak menyuruh orang mengantar makanan dan pakaian kepada Citata. Dikatakan oleh orang yang menghantar makanan itu bahwa menteri dalam hendak kawin dengan Citata, tetapi Citata tetap tidak mengubah setianya. Tahulah Mahsyodhak bahwa Citata itu teguh setianya, lagi budiman, dan bijaksana. Pada keesokan harinya Mahsyodhak pun memakai pakaian darji dengan pundi-pundi disangkutkan pada bahunya, lalu pergi menerima Citata. Citata bukan main suka hatinya. Citata dibawa pulang ke rumah disuruh mandi dan diberi pakaian yang mulia. Maka pada dikala yang baik Mahsyodhak dinikahkan raja Citata.


Baca Juga:  Puisi Hujan Bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono