Kepribadian dan Kemampuan Pemimpin

Kepribadian Pemimpin

Kepribadian dan Kemampuan Pemimpin
Ilustrasi Pemimpin

Kepribadian sebagai watak atau ciri-ciri seseorang yang membedakan eksklusif seseorang dengan yang lain. Kepribadian mempunyai peranan penting dalam rangka pemenuhan persyaratan pengangkatan menjadi pimpinan. Kepribadian bersahabat kaitannya dengan segi-segi mental ideologis, alasannya ialah di dalamnya akan lebih banyak menyangkut norma-norma sistem nilai yang berlaku dan yang perlu dipedomani oleh setiap unsur pimpinan ibarat perilaku, harga diri, kejujuran, penampilan dan sebagainya.

Menurut Soemidjo dan Soebedjo (1986:8-16) ada empat hal yang perlu diperhatikan dengan kepribadian seorang pemimpin, yaitu:

a. Kemauan untuk Memimpin

Kemauan ialah modal dasar orang untuk memimpin. Artinya adanya kemauan yang besar berarti ada langkah menuju keberhasilan terbuka bila dikembangkan, sebaliknya bila seorang yang hanya mengharapkan jabatan tapi minim kemauan berarti kegagalan siap menghampiri. Kemauan diciptakan melalui motivasi.

b. Kemampuan berkomunikasi

Berkomunikasi mengandung makna dua yaitu secara oral dan tertulis. Oral berarti berkomunikasi verbal ibarat rapat, diskusi, wawancara, berbicara antara bawahan, kolega, sehingga memerlukan human skill yang merupakan perwujudan dari pada serangkaian peranan sebagai informational role. Pada aspek lain, berkomunikasi diharapkan untuk menunjukkan keyakinan dan kerja sama dengan orang lain. Berkomunikasi tertulis ibarat surat menyurat, membuat laporan, kertas kerja, instruksi, aneka macam gambar, uraian yang menunjukkan tata kerja yang sistematis,teratur, terurai dan jelas.

c. Harga diri dan kejujuran

Harga diri dan kejujuran yang pada hakekatnya menyangkut segi-segi moral, baik dan buruk sebagai segi sopan santun, meliputi pokok-pokok pikiran sebagai berikut :

  1. Selalu berdasarkan pada ketentuan etis yang berlaku.
  2. Berpegang teguh pada kebenaran.
  3. Kuat dalam pemberian.
  4. Memiliki ketulusan dalam hati dalam melaksanakan peran dan tidak menyalahgunakan wewenang yang dibebankan kepadanya.
  5. Efektif dan efisien dalam menggunakan waktu.

d. Pengalaman Memimpin

Pengalaman ialah pembelajaran yang sangat berharga. Pengalaman pemimpin masa lalu bisa dipakai pada kepemimpinan baru, walaupun ada penambahan dan pembelajaran baru. Selain itu pengalaman menciptakan iman diri dan memacu motivasi yang lebih baik.

Baca Juga:  Tahukah Kamu 3 Kepandaian Semut ini?

Kemampuan Pemimpin

Dalam mewujudkan peranan kepemimpinan tentunya diharapkan kemampuan dan keterampilan seorang pemimpin dalam organisasi, alasannya ialah aneka macam macam peranan kepemimpinan tidak dengan sendirinya akan berfungsi, apabila tidak didukung oleh adanya kemampuan dari pemimpin itu sendiri. Kualitas dan tingkat kecakapan seorang pemimpin tidaklah sama, tergantung pada organisasi yang dipimpin dan jenjang yang ditempati. Dalam artian top leader akan berbeda dengan middle leader apalagi dengan firstfine supervisor.

Kalts membagi tiga keterampilan pengelolaan dalam organisasi yaitu technical skill, human skill and conceptual or design skill (Sumidjo & Soebedjo, 1986:8-11). Dalam penjelasannya bahwa semakin tinggi kedudukan seorang pemimpin maka semakin sempit diharapkan tehnical skill, sebaliknya semakin luas diharapkan kekerabatan kerja sama dan keterampilan berfikir dan memecahkan duduk perkara yang dihadapi. Penjelasannya sebagai berikut:

  1. Pemimpin tingkat bawah (supervisor) diharapkan keterampilan tehnical skill yaitu berupa pengetahuan dan keahlian (profesi). Seperti mempergunakan alat, material dan perhitungan kasar, pemandu lapangan (mandor).
  2. Pemimpin tingkat menengah (middle manager) yang diharapkan ialah pengetahuan perihal aspek kemanusiaan (human skill) ibarat bekerja sama dan menciptakan kesadaran, menciptakan suasana kerja, merasa aman, penuh kekeluargaan, toleransi dan rasa saling menghormati dan mempercayai.
  3. Pemimpin tertinggi (top Leader) yang perlu dimiliki ialah conceptual skill ibarat kemampuan melihat secara makro, kemampuan lintas sektoral. Kemampuan design skill ibarat merumuskan aneka macam alternatif memecahkan permasalahan itu sendiri.

Jenis Keputusan Pemimpin

Tingkatan  kedudukan pimpinan berkaitan dengan pengambilan keputusan. Cerullo membuat tingkatan keputusan berdasarkan tingkatan dalam  kepemimpinan  manajemen atau berdasarkan tingkatan  dari  orang yang membuat keputusan yang dibagi menjadi empat tingkatan, yaitu: (Salusu, 2008:59);

a. Keputusan Strategi

Pada level ini, hanya mereka yang menduduki jabatan puncak tertinggi atau dalam perusahaan sebagai pemilik atau Chief Executive Officer (CEO) yang boleh melakukannya. Mengapa? karena keputusan itu menyangkut haluan dan masa depan sebuah organisasi, instansi atau perusahaan, karena itu keputusan ini mengandung tiga unsur yakni;

  1. Masa berlakunya dalam waktu relatif lama.
  2. Mempunyai kekuatan di dalam dan di luar mengikat.
  3. Cakupan-nya menyeluruh ke seluruh lini di dalam organisasi tersebut.
Baca Juga:  Z Country Of War 1.09 Apk

Ada beberapa teladan keputusan ibarat ini yaitu mencabut subsidi BBM, menjual saham-saham di atas 50 persen perusahaan PT. Sampoerna ke PT. Philip Morris, dsb. Pada level ini, gaya kepemimpinan paling cocok ialah gaya partisipasi dan delegasi.

b. Keputusan Bersifat Taktis

Pada posisi jenis keputusan ini berada pada level pimpinan tingkat menengah atas, bila kita berbicara pada instansi pemerintahan daerah, maka level ini berada pada tingkat kepala Biro atau kepala Badan, atau bila pada perusahaan, level ini berada pada tingkatan manager operasional, manager produksi, manager penjualan. Cakupan-nya lebih sedikit dari tingkatan seni administrasi dan sifatnya berupa seni administrasi operasional atau seni administrasi tindakan.

c. Keputusan Bersifat Teknis

Berbicara teknis tentu terbayang di benak kita ialah sebuah pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus, pendidikan spesialis. Karena itu keputusannya bersifat khusus pada bidang tertentu. Artinya kemampuan itu hanya berlaku pada bidangnya sendiri, tidak berlaku pada bidang-bidang lain. Jika dikaitkan dengan jabatan pada instansi, level ini pada posisi kepala bidang, atau pada perusahaan berada pada manager unit, atau manager divisi. Cakupan-nya pun lebih kecil dari level-level sebelumnya. Pada level pimpinan (manager) tingkat atas dan bawah, gaya kepemimpinan yang sempurna ialah instruksi, konsultasi, partisipasi dan delegasi.

d. Keputusan Operasional

Dalam konsepsi pemahaman operasional ialah sistem kerja yang berlaku pada instansi tersebut. Dalam bahasa lain disebut pola kerja atau alur kerja yang berlaku pada instansi/perusahaan tersebut. Sifatnya menyeluruh dan berlaku umum, siapa saja yang berada dan berafiliasi dengan organisasi tersebut. Pada level pimpinan tingkat rendah (supervisor) gaya kepemimpinan paling mayoritas diterapkan ialah gaya isyarat dan konsultasi.