Kisah si Kintan dari Tanah Aceh


Tersebutlah dongeng si Kintan dari tanah Aceh. Si Kintan hidup bersama kedua orang tuanya di sebuah desa yang miskin. Pekerjaan ayah si Kintan yaitu mencari kayu di hutan. Kayu itu dijual ke pasar dan jadinya digunakan untuk membeli keperluan mereka bertiga. Walaupun miskin, mereka hidup rukun.

Suatu malam ayah si Kintan bermimpi. Dalam mimpiannya ia didatangi seorang sakti. Orang sakti itu mengatakan bahwa di kawasan hulu terdapat sebuah tongkat permata pada suatu rumpun bambu. ”Ambilah permata itu, niscaya nasib keluargamu akan menjadi lebih baik!” demikian kata orang sakti itu.
Keesokan harinya ayah si Kintan merasa bingung. Ia tidak tahu makna mimpinya. Karena ingin tahu, ayah si Kintan pergi ke kawasan hulu. Si Kintan diajaknya serta. Si Kintan sendiri heran karena selama ini belum pernah ia diajak ke hutan. Lama juga ia mencari tempat menyerupai yang dikatakan orang sakti itu. Mereka hampir putus asa. Namun, selang beberapa lama kemudian, tempat itu mereka temukan. Tongkat permata itu memang ada di sana, mengagumkan sekali.
Ayah dan anak itu pulang kembali pulang ke rumah. Akan tetapi, mereka resah ke mana harus menjual tongkat permata itu. Di desa itu tentu tidak ada orang yang bisa membelinya. Setelah lama berbincang-bincang, ketiganya sepakat bahwa tongkat itu akan dijual oleh si Kintan ke Negeri Seberang.
”Hati-hatilah engkau di rantau, Nak! Setelah kau berhasil menjual tongkat itu, cepatlah kembali,” pesan ibunya.
”Baik, Bu” kata si Kintan dikala berpisah. Si Kintan tiba di Negeri Sebrang.
Penduduk di sana pun tidak bisa membeli tongkat mahal itu. Ia mengembara dari satu kampung ke kampung lainnya selama berbulan-bulan. Akan tetapi, si Kintan belum juga menerima orang yang mau membeli tongkat permata itu. Pernah ada orang yang bisa membeli, tetapi tidak berani menyimpannya. Setelah setahun berlalu, seorang kaya berhasrat membeli tongkat itu. Kata sepakat tercapai. Tongkat itu laku dengan harga yang cukup tinggi.
Setelah berhasil memperoleh uang banyak, si Kintan yang kaya raya lupa akan dirinya. Ia menjadi sombong dan pesan orang tuanya dilupakannya. Ia menjadi orang yang paling kaya di Negeri Seberang.
Harta bendanya bertumpuk. Rumah, kendaraan, dan uang telah dipunyainya. Bahkan, beliau sudah membeli beberapa kapal untuk berniaga di laut. Beberapa tahun kemudian, si Kintan yang kaya raya berlayar dari satu pulau ke pulau lainnya. Dia membawa beberapa orang kepercayaannya. Orang terkagum-kagum melihat kapal si Kintan.
Suatu waktu kapal si Kintan berlabuh di sebuah pulau. Pulau itu yaitu tanah kelahirannya. Penduduk yang mengetahui kedatangan si Kintan dengan kapalnya yang mewah itu berbondong-bondong datang ke pantai. Kedua orang bau tanah si Kintan pun tidak mau ketinggalan.
Tetapi apa yang terjadi? Si Kintan sama sekali tidak mengakui orang tuanya. Ia bahkan mengusir mereka. Karena tak percaya akan perubahan sikap anaknya, ayah si Kintan meninggal secara mendadak. Ibunya pun dibentak-bentak pula. Ibu yang malang itu memohon kepada Yang Mahakuasa biar menawarkan pembalasan kepada anak durhaka itu. Siksaan Yang Mahakuasa pun datang. Laut mulai bergolak. Angin kencang bertiup. Si Kintan dan kapalnya diterjang angin ribut dan gelombang, lalu tenggelam. Di tempat si Kintan karam kemudian muncul pulau. Pulau itu diberi Pulau Si Kintan.