Struktur Masyarakat Pada Masa Kerajaan Islam di Indonesia


Pada masa perkembangan kerajaan-kerajaan Islam, masyarakat Indonesia mengalami pertumbuhan yang lebih cepat, khususnya di tempat pesisir. Daerah pesisir berubah menjadi suatu perkotaan. Hal itu terjadi karena tempat pesisir didukung dengan pertumbuhan perdagangan. Perdagangan di pesisir dapat tumbuh karena tempat pesisir merupakan tempat titik temu lalu lintas perdagangan. Masyarakat di tempat pesisir menjadi tempat pertama yang menganut Islam. Bila kita telusuri, struktur masyarakat yang terbentuk pada masa penyebaran Islam meliputi:
a. Golongan Sultan dan keluarganya
Sultan atau raja dan keluarganya menerima posisi yang terhormat di masyarakat. Mereka tergolong kelas masyarakat tertinggi dibanding golongan yang lain. Sultan atau raja beserta kelurganya tinggal di kompleks keraton. Keluarga raja termasuk dalam kelompok bangsawan. Keluarga sultan memiliki nama-nama khusus, priyayi misalnya sebutan untuk keluarga kerajaan di Mataram, dan ”kadanghaji” untuk sebutan keluarga raja di Kalimantan.

Di ibu kota, sultan mengendalikan kekuasaan atau pemerintahan. Keistimewaan keluarga raja dapat pula disebabkan oleh pendidikan yang mereka peroleh. Pendidikan yang dilakukan raja terhadap keluarganya, yaitu dengan memanggil guru khusus ke keraton untuk mendidik anaknya atau pendidikan dilakukan dengan mengirim puteranya ke tempat pendidikan agama. Pangeran Arya, putera Raja Banten dididik oleh Ratu Kalinyamat di Jepara. 
b. Golongan elite
Golongan yang memiliki kedudukan tinggi setelah sultan dan keluarganya ialah golongan elite. Kelompok masyarakat yang termasuk ke dalam golongan elite, yaitu bangsawan, tentara, kaum kegamaan, dan pedagang. Golongan elite di kerajaan Mataram disebut kaum priyayi. Para darah biru biasanya merupakan pejabat pemerintahan.

Pengangkatan pejabat pemerintahan dilakukan oleh raja. Jabatan pemerintahan mampu berasal dari kalangan keluarga raja sendiri atau orang luar bahkan ada yang diangkat dari bangsa asing. Dalam masyarakat Islam, para pedagang memiliki kedudukan penting. Peran padagang ini sangat penting karena mereka sangat menentukan terhadap aktifitas perdagangan kerajaan.
c. Golongan Kyai dan Santri
Masyarakat Islam sangat menghormati orang yang menguasai ilmu agama. Mereka ialah para ulama atau kyai. Biasanya para ulama mendirikan pesantren sebagai sentra pendidikan Islam. Di sana, mereka mendidik ribuan santri dari aneka macam penjuru negeri. Para santri tersebut hidup dan bergaul sehari-hari dengan para kyai. Mereka membantu gurunya dalam mengurus pesantren maupun ladang atau sawah yang dimiliki oleh kyainya. Para ulama dan kyai mendapat kedudukan yang terhormat di mata santri-santrinya.
Selain itu, sultan pada masa Islam sering menimbulkan para ulama atau kyai sebagai penasehatnya dalam pengurusan problem kemasyarakatan, pemerintahan maupun perang. Sebagai contoh, pada masa kerajaan Demak, ulama ada yang dijadikan sebagai panglima perang.

d. Golongan non elite
Golongan non-elite merupakan golongan rendah, yaitu golongan rakyat banyak. Pada masyarakat Jawa, golongan ini disebut dengan sebutan wong cilik. Petani, nelayan, dan para tukang merupakan episode dari golongan non-elite. Kehidupan mereka biasanya sangat bergantung kepada golongan elite. Golongan ini merupakan golongan yang jumlahnya paling banyak.

e. Golongan hamba sahaya atau budak
Hamba sahaya merupakan golongan paling rendah dalam masyarakat Islam. Kehidupan mereka sangat bergantung pada orang lain, kehidupannya tidak bebas dan merdeka.